4 Penyebab Belibet Saat Public Speaking dan Cara Mengatasinya Menurut Sains

Fokus Jadi Trainer Profesional, Bukan MC

Apa penyebab belibet saat public speaking?

Belibet saat berbicara di depan umum adalah salah satu masalah yang dialami banyak orang. Rasanya seperti begitu banyak hal yang mau disampaikan tapi mulut gak bisa diajak kerja sama.

Lidah seperti kaku dan kehilangan kefasihannya seperti ketika berbicara dalam kehidupan sehari-hari selama ini.

Apakah ini yang kamu rasakan?

Jika ya, maka artikel ini jawabannya. Di sini saya akan membahas kenapa kita sering belibet saat public speaking dan gimana mengatasinya menurut sains.

Yuk baca sampai selesai biar kamu bisa bicara di depan umum dengan lancar seperti jalan tol!

Ini yang Terjadi Saat Kita Belibet Bicara

Menurut American Speech-Language-Hearing Association (ASHA), belibet (cluttering) adalah kondisi ketika seseorang berbicara terlalu cepat, berantakan, dan tidak teratur, sehingga ucapannya sulit dipahami orang lain.

Ciri-ciri kondisi belibet menurut St. Louis & Schulte (2011) ditandai dengan:

  1. Bicara sangat cepat atau tidak teratur
    Kecepatan bicaranya seperti “loncat-loncat” dan tidak stabil. Kadang cepat sekali, lalu tiba-tiba melambat.
  2. Kalimatnya banyak berantakan dan tidak utuh
    Misalnya banyak mengulang kata, menyambung kata atau kalimat yang tidak nyambung, tapi bukan termasuk pola gagap.
  3. Pola berhenti dan jedanya tidak jelas
    Jeda muncul di tempat yang tidak seharusnya sehingga alurnya terdengar kacau.
  4. Banyak bunyi yang “mepet” atau terlalu menyatu
    Kata-kata seolah nempel, sehingga terdengar seperti dipadatkan. Akibatnya, ucapan tidak jelas dan sulit dimengerti.

Belibet ini termasuk dalam speech disfluency (ketidaklancaran berbicara). Penelitian di bidang komunikasi dan psikolinguistik menunjukkan bahwa ini terjadi karena antara proses bahasa di otak dengan produksi kata di mulut tidak sinkron.

Bisa jadi otak bekerja terlalu ribet atau rancu sehingga pesan yang dikirim ke mulut tidak rapi dan sistematis. Bisa juga karena otak tidak tau harus mikir apa sementara mulut ingin terus berbicara.

Baca juga: 5 Level Kepemimpinan oleh John C. Maxwell, Anda di Mana?

Penyebab Belibet Saat Public Speaking

Untuk mengatasi belibet saat bicara (khususnya di depan umum), kita perlu betul-betul memahami akar masalahnya. Tanpa ini, latihan seperti apapun akan kurang maksimal.

Dirangkum dari berbagai jurnal ilmiah, sejatinya ada 4 penyebab paling umum kenapa kita belibet saat bicara di depan umum.

Yaitu:

1. Tekanan Emosional

Ketika diminta berbicara khususnya di depan banyak orang, seketika kita menjadi tertekan secara emosional. Kita menjadi gugup, takut salah, atau takut dinilai oleh orang lain.

Dalam kondisi ini, tubuh memasuki kondisi siaga. Istilahnya fight or flight mode. Ini bikin detak jantung naik, napas lebih pendek, dan otot-otot wajah, leher, rahang menjadi tegang.

Inilah yang membuat kordinasi antara otak dengan mulut menjadi terganggu.

Mengapa?

Karena saat sistem saraf aktif, tubuh memprioritaskan “bertahan”, bukan “berbicara”. Ini yang membuat mulut terasa berat dan kata-kata tersendat meskipun sebenarnya kita paham apa yang mau disampaikan.

Ini faktor penyebab yang paling umum. Jadi bukan karena kita kurang pinter, tapi karena tubuh kita sedang bereaksi terhadap tekanan.

2. Faktor Traumatis Masa Lalu

Kalo kita gali lebih dalam secara psikologis, mayoritas orang yang belibet bicara itu muncul karena adanya faktor trauma di masa kecil.

Pengalaman buruk seperti sering ditolak, sering dimarahi, sering dibully, dikucilkan, tidak dianggap, dipermalukan, ditertawakan, dan semacamnya semua tersimpan di pikiran bawah sadar sebagai mental blok yang menghalangi kita untuk berbicara secara lancar.

Orang-orang yang punya trauma ini, akan merasa minder, rendah diri, tidak layak didengarkan, dan kecemasan berlebih.

Sehingga pikirannya tidak akan bisa memproduksi kata-kata secara lancar.

Salah satu contoh nyata adalah kasus Maxime Mustofa yang terkenal di Tiktok karena cara bicaranya yang gagap. Dalam salah satu jurnal sains disebutkan bahwa ternyata Mustofa pernah mengalami penolakan sebanyak 20 kali ketika mencoba menembak cewek.

3. Kurangnya Language Skill

Penyebab lain yang juga banyak dialami orang kurangnya kemampuan berbahasa. Alias otaknya memang tidak terbiasa merangkai kata dan kalimat dengan baik dalam waktu yang cepat.

Kalau seseorang jarang latihan:

menyusun ide,
memetakan alur bicara,
menyederhanakan kalimat,
memetakan “point → penjelasan → contoh”,

…maka saat ia harus bicara spontan, otaknya kewalahan. Ketika beban pemrosesan terlalu besar, terjadilah bottleneck yang membuat kata-kata tidak keluar mulus.

ASHA menyebut ini sebagai linguistic planning overload — ketika proses merancang bahasa terlalu berat untuk kapasitas yang ada.

4. Faktor Neuorologis

Pada sebagian orang, otaknya memang memproses bahasa dengan cara yang berbeda. Ini bisa terjadi karena faktor genetik, perkembangan saraf, atau kondisi tertentu seperti stuttering, cluttering, ADHD, atau riwayat cedera otak.

Dalam kasus seperti ini, koordinasi antara “memikirkan kata” dan “mengucapkan kata” tidak berjalan seefektif orang pada umumnya.

Dampaknya, belibet bisa muncul kapan saja—bahkan saat orang tersebut tidak gugup.

Cara Mengatasi Belibet Saat Bicara di Depan Umum

Sekarang kita bahas cara mengatasinya satu per satu — sesuai akar penyebab.

1. Kalau Belibet Dipicu Emosi & Gugup: Tenangkan Sistem Sarafnya

Penelitian menunjukkan bahwa tekanan emosi dan gugup akan mengaktifkan sistem saraf simpatik. Tubuh masuk mode “bertahan” sehingga bicara jadi kaku.

Karena itu, cara mengatasinya adalah dengan menurunkan respon sarafnya. Caranya sebagai berikut:

A. Atur napas sebelum bicara (4–2–6)

Tarik napas 4 detik, tahan 2 detik, buang 6 detik.

Ini menurunkan ketegangan otot bicara dan menstabilkan ritme suara.

Teknik ini dipakai dalam terapi bicara karena mengembalikan kontrol tubuh.

B. Gunakan jeda sebelum mulai bicara

Jeda 1–2 detik memberi waktu bagi otak untuk mengatur alur.
Orang yang berbicara pelan terbukti memiliki kelancaran lebih stabil.

C. Turunkan tempo bicara

Mayo Clinic menjelaskan bahwa tempo cepat memperburuk disfluency. Bicara pelan membuat tubuh lebih santai dan pikiran lebih jernih.

2. Kalau Belibet Dipicu Trauma Masa Lalu: Atasi Trigger Emosinya

Untuk mengatasi faktor trauma di masa lalu, ada 4 tahap yang bisa kamu lakukan:

A. Sadari Masalahnya

Pertama kamu harus menyadari akan dari kejadian itu. Gunakan teknik relaksasi sederhana untuk mengingat kembali orang-orang atau kejadian yang pernah menyakitimu.

B. Lepaskan Emosinya

Setelah itu luapkan semua emosinya. Keluarkan semua apa yang kamu rasakan, rasa sakit, kecewa, malu, sedih, marah, dan lain sebagainya ungkapkan secara jujur kepada diri sendiri.

Kamu juga bisa membayangkan orang-orang yang ada di dalam kejadian itu dan berbicara langsung kepada mereka seolah-olah mereka ada di depanmu sekarang. Katakan bahwa mereka membuatmu sakit, membuatmu kecewa, dan lain sebagainya.

Sembari kamu meluapkan semua emosi itu, rasakan perlahan-lahan rasa sakit dan beban emosi di dalam dirimu menjadi berkurang dan kamu menjadi lebih lega.

Ulangi tahap ini sampai kamu merasa lebih nyaman.

Baca juga: 5 Tips Membangun Budaya Kerja Positif di Tim Anda

C. Maafkan Orang-orangnya

Sekarang waktunya untuk memaafkan. Maafkan semau orang yang dulu pernah menyakitimu. Memaafkan akan melepaskan semua beban yang ada di hatimu.

Dalam memaafkan ingat bahwa:

  1. Memaafkan bukan berarti melupakannya
  2. Memaafkan bukan berarti menyukai perbuatan itu
  3. Memaafkan bukan berarti menginginkannya terjadi lagi
  4. Memaafkan bukan berarti kita kalah atau lemah
  5. Memaafkan untuk kebaikan diri kita bukan orang lain.

Selain memaafkan kamu juga bisa mendoakan kebaikan untuk orang-orang tersebut.

D. Ambil Hikmahnya

Sekarang “reframing” kejadian tersebut dengan makna baru yang lebih positif dan lebih memberdayakan.

Maksudnya… ambil pelajaran positif dari kejadian itu. Misal, dengan kejadian tersebut kamu menjadi lebih kuat, lebih tangguh, dan lain sebagainya.

Tanyakan pada dirimu sendiri, apa hikmah dari kejadian ini? Apa hal baik yang bisa dipetik dari kejadian ini?

3. Kalau Belibet Karena Kurang Terlatih Menyusun Bahasa: Latih Language Skill

ASHA menekankan bahwa banyak kasus disfluency muncul karena overload pemrosesan bahasa. Artinya otak kita tidak terbiasa merangkai ide menjadi kalimat yang jelas dengan cepat.

Karena itu satu-satunya cara adalah dengan berlatih.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Di antaranya membiasakan diri menulis, memperbanyak membaca buku, menonton podcast berkualitas, berlatih berbicara di depan kamera dengan jelas dalam waktu 1 menit, dan lain sebagainya.

Kamu juga bisa berlatih untuk berbicara dengan menggunakan pola-pola bahasa sederhana. Ini mengurangi beban otak dan menjaga alur.

Misalnya pola Poin → Penjelasan → Contoh

Contoh:

Poin:
Menghemat listrik membantu menjaga lingkungan.

Penjelasan:
Semakin sedikit energi yang kita gunakan, semakin sedikit pula bahan bakar yang dibakar oleh pembangkit listrik.
Ini mengurangi emisi CO₂.

Contoh:
Mematikan AC saat keluar kamar atau memakai lampu LED sudah cukup mengurangi konsumsi energi harian.

4. Kalau Belibet Karena Faktor Neurologis: Gunakan Teknik yang Sesuai Dengan Cara Kerja Otaknya

Belibet akibat faktor neurologis biasanya membutuhkan pendekatan yang lebih terstruktur. Cara paling efektif adalah membiasakan diri menggunakan kalimat yang pendek dan sederhana. Kalimat yang singkat memberi waktu bagi otak memproses kata dengan lebih stabil sehingga ucapan tidak saling bertabrakan.

Selain itu, berbicara dengan ritme yang teratur sangat membantu. Jeda singkat di akhir frasa atau tempo bicara yang konsisten membuat otak punya ruang mempersiapkan kata berikutnya. Latihan membaca nyaring dengan tempo pelan juga bisa membangun kebiasaan ini.

Kalau belibet muncul terus-menerus atau sudah berlangsung sejak kecil, bantuan profesional bisa dipertimbangkan. Terapis wicara biasanya memberi teknik yang sesuai dengan pola pemrosesan bahasa masing-masing orang. Pendekatannya lebih spesifik, dan hasilnya biasanya jauh lebih terasa.

Kesimpulan: Kenapa Kita Belibet Saat Bicara di Depan Umum?

Belibet saat bicara di depan umum adalah hal yang lumrah. 4 penyebab utamanya adalah:

  1. Tekanan emosional
  2. Trauma masa kecil
  3. Kurangnya language skill
  4. faktor neurologis

Nah coba pikirkan, dari 4 hal ini, mana yang paling sering muncul dalam diri kamu? Emosinya, pengalaman lamanya, kemampuan bahasanya, atau cara kerja otaknya?

Share di kolom komentar ya!

Referensi:

  1. American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). (Stuttering, Cluttering, and Fluency). ASHA Practice Portal. Diakses dari https://www.asha.org/practice-portal/clinical-topics/fluency-disorders/
  2. Cleveland Clinic. (2022, 14 Desember). Stuttering: What It Is, Causes, Treatment & Types. Cleveland Clinic. Diakses dari https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/14162-stuttering
  3. Hikmah, S. N. A., & Mardiyah, A. N. (2022). Kajian Psikolinguistik Terhadap Penyandang Stuttering (Studi Kasus: DN). PENEROKA: Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
  4. Mayo Clinic Staff. (2024, 2 Maret). Stuttering – Symptoms and causes. Mayo Clinic. Diakses dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stuttering/symptoms-causes/syc-20353572
  5. Nisa, S. R. K., & Arsanti, M. (2024). Gangguan Berbahasa Gagap pada Mustofa Tiktok dalam Konten Youtube BKK EP. 10. MISTER: Journal of Multidisciplinary Inquiry in Science, Technology and Educational Research. DOI: 10.32672/mister.v1i3c.1959.
  6. Rahmawati, P., Aurellia, A. C., Haya, A. F., & Salsabila, A. Z. (2024). Analisis Gangguan Berbahasa ASD pada Tokoh Dodo Rozak dalam Film Miracle in Cell No. 7: Kajian Psikolinguistik. Jurnal Basataka (JBT).
  7. Sandi, M. (2017). Speech Disfluency in the Dialogue in America’s Lawyer Show (Skripsi, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top